Bagian X Menangkap Penculik Lely (PART 2)

Polisi telah menangkap orang yang membawa tas tersebut dan dengan mengepalkan tangannya Pranata menghampiri wanita tersebut. Tapi polisi menahannya.

Tiba-tiba telpon kembali berdering. Pranata mengangkatnya.

“kembalikan anak ku… aku sudah lelah, aku akan memberikan apapun yang kamu mau!” Pranata membentak penelpon tersebut dengan nada marah bercampur sedih dan putus asa.

maaf pak! Kami adalah kepolisian yang bertugas dirumah bapak. Kami ingin memberitahukan bahwa istri bapak saat ini berada dirumah sakit karena shok berat!” kata penelpon tersebut.

Pranata bergerak menuju rumah sakit menemui istrinya. Disana ia menemukan istrinya terbaring dirumah sakit dengan wajah shok dan lemas.

“Jika kamu masih sayang aku dan Lely. Tolong usir polisi dan semua orang dari rumah kita bawa aku pulang sekarang” bisik Marisa kepada suaminya.

Pranata memenuhi permintaan Marisa, sesampainya dirumah. Marisa menceritakan semua yang ia dapatkan.

Pukul 12:45 siang, Penculik tersebut mengirim lagi kado ke 2 yang telah dibuka oleh Marisa dan disembunyikan kepada polisi.

Kado tersebut berisi kertas pesan dari penculik tersebut.

“hai teman lama, ternyata kamu tahu dengan petunjuk yang aku berikan, apa kamu ingat sesuatu? Sayang sekali kamu tidak nemepati janji padahal aku sudah sangat percaya. Teman-teman polisi mu mengacaukan pesta kita. Aku menawarkan kesempatakan ke 2 padamu, asal kau tahu saja. Ini adalah kesempatan terakhir dari ku. Aku tidak ingin ada yang terluka. Jadi singkirkan semua teman polisi mu dan orang-orang pengganggu itu. Aku takut bukan hanya anak mu yang terluka. Tapi karna kau telah melanggar janji aku memberimu hukuman. Aku minta tambah 50% lebih banyak dari total yang kita sepakati. Tetap berada didekat telpon mu dan jangan minta teman polisi mu melacak ku lagi, aku benci privasi ku diganggu. Aku mengirimi mu lagi sebuah hadiah kecil. Pertanda Teman Lama Mu”

Setelah membaca surat tersebut Pranata mengambil kotak yang diselimuti kertas kado dari tangan Marisa.

Marisa kembali menangis. Pranata membuka kotak kecil seukuran kotak jam tangan tersebut. Isinya sangat mengejutkan, sebuah jari manis Lely yang sudah pucat dan berlumuran darah. Masih mengenakan cincin keluarga mereka.

Marisa memeluk Pranata. Pranata lemas melihat benda itu. Marisa terus menangis tak kuasa menahan kesedihannya. Tiba-tiba Pranata berdiri.

“aku tahu orangnya. Petunjuk itu tempat mengintip, dia takut bukan hanya Lely yang terluka, melanggar janji dan teman lama. Aku tahu siapa penculiknya. Aku akan meminta bantuan polisi” Tegas Pranata.

“aku mohon pada mu , jangan libatkan polisi lagi, aku tidak ingin Lely menderita. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang satu koma lima milyar demi anak ku” pinta Marisa akan tetapi Pranta tidak menghiraukan perkataan istrinya dan tetap menelpon polisi.

Tiba-tiba Pranata mendapat kabar, oleh yang ditangkap saat mengambil tas itu adalah seorang gelandangan yang dibayar oleh seseorang. Dan sudah dikonfirmasi saat ditanyakan pada penduduk sekitar.

***

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *