Bagian X Menangkap Penculik Lely (PART 1)

Bagian X Menangkap Penculik Lely

Marisa terus menangis semalaman. Aku merasakan kesedihan itu, aku merasakan kehilangan itu. Aku benar-benar percaya jika polisi itu mampu menangkap penculik itu.

Siangnya polisi berdatangan, aku melihat beberapa detektif ikut terlibat. Sudah lebih dari 24 jam kasus ini baru dinyatakan penculikan.

Aku sedikit kesal mereka sangat lambat dan aku sangat khawatir dengan kamera-kamera yang kupasang.

Pada malam hari aku memutuskan untuk melepaskan semua kamera dan meninggalkan Ekon agar tetap mendapatkan informasi. Aku memasangkan kalung yang didalamnya terdapat beberapa nano-microphone dilengkapi dengan bebapa battery kecil yang biasanya digunaan pada jam tangan. Aku bisa menyadap membicaraan mereka.

Benar saja, pagi harinya. Marisa mengambil anak kucing itu.

“anak kucing ini. Lely pernah ingin memeliharanya, tapi dulu aku melarangnya” aku mendengar suara Marisa.

“terserah tentang kucing itu. Tapi kita mendapat kado” aku mendengar suara Pranata.

Aku terus mendengarkan pembicaraan mereka. Ekon melakukan pekerjaannya dengan baik.

Sepertinya penculik itu mengirimkan sesuatu. Aku mendengarkan Pranata membaca isi surat dalam kiriman itu.

“halo teman, apa kau kehilangan sesuatu. Langsung saja, anak mu bersama ku. Aku tahu kamu sudah melaporkan ke polisi. Tapi aku punya penawaran, temui aku di Lumban Tirta-Tempat Pemandian Umum. Besok pukul 10:00 pagi. Tapi jangan bawa teman polisi mu, aku takut mereka akan menyakiti anak mu. Mari kita bertukar, bawakan aku uang satu miliyar rupiah. Kau boleh membawa anak mu kembali. Sebagai bukti anak mu ada pada ku. Aku kirimkan tas sekolah anak mu bersama surat ini. Jujur saja aku tidak mengambil apapun didalamnya, kecuali sebuag buku anak mu, disana ada nomor telpon mu. Menelpon ketika sudah waktunya. Sampai jumpa besok. Kuharap kau orang yang tepat waktu”

Aku mendengarkan suara tangisan Marisa. Itu membuat ku semakin kacau. Aku membuang headset ku. Uni mendekatiku dengan wajah murungnya.

***

Semua menjadi kacau dan waktu tidak bisa menunggu. Saat ini pria pengintai itu benar-benar hancur dan bingung. Sedangkan Marisa tak henti menangis menghawatirkan anaknya, sudah lebih dari dua hari bersama penculik. Pranata adalah pria yang sangat emosi dan tempramental, dia memukul semua benda yang ia lihat.

Hari ini akhirnya gelap, malam telah datang menghampiri rumah sederhana itu. Polisi pun mulai beristirahat setelah membawa beberapa jejak. Wartawan dilarang memberitakan penculikan ini demi proses penangkapan, publikasi ditunda.

Beberapa penyidik dan detektif pun masih mewawancarai warga sekitar dan yang lain memeriksa kembali sekitar tempat kejadian.

Hingga tengah malam sepasang suami-istri itu masih terus berunding. Mereka harus cepat mengambil keputusan. Disisi lain tabungan mereka tidak akan cukup memenuhi permintaan penculik.

Pranata dan Marisa telah mencoba meminjam uang berapapun tapi tetap saja itu masih jauh dari total yang diminta oleh penculik.

Uang sebesar satu miliyar rupiah dikumpulkan dalam waktu kurang dari 24 jam, itu terdengar mustahil bagi keluarga kecil yang sederhana ini. Tapi ini menyangkut nyawa putri tunggal mereka. Orang yang mereka sayangi lebih dari nyawa mereka.

Saat mereka terus mencari solusi, mentari tidak bisa menunda untuk terbit. Akhirnya hari yang menentukan itu tiba. Setelah mereka berusaha mengumpulkan tetap saja jumlah itu masih terlalu besar. Meskipun harus menjual rumah mereka. Akhirnya Pranata memutuskan meminta bantuan polisi.

Mereka membentuk tim khusus, membuat rencana dan langsung mengatur strategi.

Mereka akan menjebak penculik ini, polisi menyiapkan uang palsu didalam koper besar. Menunggu informasi terbaru dari penculik. Sementara pria buruk rupa yang bernama Kasa tetap mendengarkan melalui alat penyadapnya.

Pukul 09:00 pagi, penculik itu menelpon Pranata menanyakan kesepakatan mereka. Penculik menggunakan alat menyamarkan suaranya sampai sampai tidak bisa disimpul suara siapa bahkan jenis kelamin pemilik suara itu. Akhirnya mereka sepakat bertemu disalah satu ruang ganti didalam tempat pemandian umum tersebut dan memberikan sebuah petunjuk, tempat untuk mengintip.

Sementara itu polisi menyadap lokasi penculik tersebut. Telah pembicaraan di sepakati, polisi menemukan lokasi penculik. Mereka semua bergerak.

Tak lama itu salah satu rekan mereka mengkonfirmasi bahwa lokasi tersebut adalah tempat pemandian umum yang telah di sepakati.

Pukul 10:00 menjelang siang, mereka semua telah bersiap. Pihak kepolisian dan tim khusus mereka percaya jika penculik itu akan segera tertangkap.

Pranata membawa koper berisi uang tersebut. Marisa dipaksa menunggu dirumah bersama beberapa polisi dan psikolog.

Pranata sudah sangat geram, merebos semua pengunjung memeriksa semua kamar ganti ditempat pemandian tersebut sedangkan disekitar lokasi polisi telah mengepung tempat itu. Tip medis dan keamaanpun dalam posisi siaga.

Entah sudah berapa kamar ganti yang diperiksa, akhirnya Pranata teringat petunjuk yang diberikan penculik tersebut. Tempat untuk mengintip, maka itu adalah tempat ganti wanita. Pranata tahu lokasinya dan langsung menuju kesana. Saat Pranata menunjuk tempat itu, telpon kembali berdering. Pranata mengambil telpon itu. Terdengar suara yang sama, suara penculik Lely.

tinggalkan uang itu di kamar ganti itu dan anak mu ada di PusatInformasi”

Pranata manaruh tas tersebut. Tak lama itu terdengar suara pengeras suara.

Itu berasal dari Pusat Informasi “diumumkan kepada siapapun yang merasa kehilangan anak berusia 5 tahun mohon datang ke Pusat Informasi. Kami ulangi,diumumkan kepada siapapun yang merasa kehilangan anak berusia 5 tahun mohon datang ke Pusat Informasi”

Pranata mempercepat larinya setelah mendengar berita gembira tersebut. Disisi lain polisi tetap mengawasi tas yang ditinggalkan Pranata.

Akhirnya Pranata sampai didepan Ruang Pusat Informasi dan seorang wanita datang mengambil tas tersebut kemudian membawanya pergi. Dengan sigap polisi menangkap penculik tersebut dan Pranata sampai di Pusat Informasi.

Pranata menghampiri gadis kecil itu, langsung bergegas memeluknya, tapi sayangnya itu bukan Lely putrinya. Sepasang suami-istri datang dan mengatakan bahwa itu adalah anaknya.

***

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *