Bagian VIII Ayah dan Fakta Kematian Ibu

Aku iri pada Pranata, memiliki keluarga yang sangat bahagia. Tapi aku senang Marisa dan Lely bahagia. Lely sangat mencintai ayahnya. Aku jadi teringat ayahku.

Sejujurnya aku sangat membenci ayah. Aku begitu yakin ayah adalah dalang kematian ibu. Tapi aku mencari bukti dan meneluri apapun yang terjadi. Akhirnya

Aku teringat tersangka yang dipenjarakan karena terbukti sebagai pelaku yang membakar rumah ku hingga berakhir dengan kematian ibu.

Aku mendapat informasi mereka telah bebas dari penjara, akhirnya aku menemukan informasi tempat tinggalnya. Akhirnya ku putuskan menemui salah satu pelaku itu yang tak terlalu jauh dari daerah tempat aku tinggal sekarang.

Aku datang pada malam hari, sendirian tanpa mengajak Uni dan Ekon. Ku rasa ini akan berbahaya, dia adalah orang yang tidak kenal kasihan. Salah satu orang yang sering menyakiti ku saat aku sekolah, membully berama Pranata.

Saat aku menemuinya dia sangat terkejut, dia mengenali ku. Aku mengumpulkan keberanian ku. Aku mengingat keberanian Ekon, agar aku tetap tegar.

Pria itu menghampiri ku, kemudian bersujud kepada ku.

“apakah kamu Kasa? Aku sudah lama mencari mu. Aku dalah Dhani. Kasa aku benar-benar menyesal soal ibu mu. Aku dijebak. Tolong maafkan aku, kau boleh membunuh ku” pria itu berbicara dengan terisak tangis. Dia bekerja sebagai pemotong kayu disebuah bengkel mebel kayu pembuat pintu, meja dan kursi. Pria itu menyodorkan aku sebuah gergagi pemotong.

“tolong bunuh aku… tolong Kasa, aku tidak tahan hidup dalam penyesalan. Tolong… Kasa tolong bunuh aku lalu maafkan aku” pria itu terus menerus menangis dan meminta aku untuk membunuhnya.

Aku mengambil gergaji itu. Kemudian menggemgam tangan pria itu. Pria itu terlihat pasrah. Dia memejamkan matanya. Tiba-tiba aku terbayang senyuman ibu.

“sudahlah, aku sudah lama memaafkan mu. Aku tidak mau membunuh mu, tapi tolong beritahu aku apakah ayahku ikut terlibat dalam kebakaran itu”

“ayah mu? Tidak bukan dia orangnya, tapi…” kemudian aku memotong perkataan pria itu.

“baiklah aku percaya pada mu, aku tidak peduli siapa. Tapi jika bukan ayah ku, itu membuat ku lega. Aku ingin pulang. Sekarang kau tidak perlu lagi memikirkannya dan tidak perlu lagi meminta maaf”’ aku berkata dengan nada lega dan meninggalkan pria itu. Pria itu terlalu sedih untuk berdiri, dia tersungkur dan kembali menangis.

“terima kasih Kasa, hati mu seperti nama mu. Sangat lembut. Terima kasih Kasa”

***

Aku lega dengan fakta yang ku dapatkan. Selama ini aku salah mengira.

Ayah ku tidak terlalu buruk. Walaupun itu tidak sepenuhnya benar. Dia memang selalu mengirimi ku uang yang sangat banyak. Uang itu ku gunakan untuk keperluan ku hidup. Komputer ku, kemera, jaringan internet dan biaya apapun yang ku butuhkan.

Dia adalah seorang pejabat tinggi, orang penting negara ini. Setelah mendapatkan jabatan itu ia malu punya anak seperti ku. Dia memanggil ku Monster.

Ibu selalu membela ku, mereka selalu bertengkar karna aku. Aku menjadi kasihan pada ibu, aku selalu merepotkan dia. Karena aku lah ayah menceraikan ibu. Dan mengadilan menyetujui itu. Kemudian ayah menikah lagi.

Ibu menuntut hak ku atas uang ayah. Jadi ibu bilang aku bisa melaporkan ke pengadilan jika ayah melanggar janji itu. Tapi ayah menetapi janjinya, dia selalu mengirimi ku uang, lebih dari cukup.

Walaupun pada akhirnya aku tahu, uang yang dikirim ayah ke aku bukanlah uang bersih. Aku adalah mesin pencuci uang. Ayah mengirimi ku uang, sebagai tujuan Money Laundrering yang didapatnya dari hasil korupsinya.

Tapi siapa yang peduli, uang kotor cocok untuk orang kotor seperti ku.

Aku ingat betul orang-orang itu meneriaki ku anak “pembawa sial” saat ibu ku terpanggang didalam rumah kami yang terbakar. Saat aku benar-benar menderita dan kehilangan semua yang ku punya. Aku ingat semua itu. Aku jadi tidak peduli dengan sebutan dan semua istilah itu.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *