Bagian VII Hidup Baru Ku

Aku menjalani hidup yang rangkai sendiri. Aku lebih senang menyebutnya mengamati tapi sepertinya yang ku lakukan ini seperti mengintai. Marisa dan putrinya terus memberiku semangat.

Sejak tahun pertama aku mengamati kehidapn keluarga kecil ini. Sampai tahun kedua aku memutuskan untuk memasang kamera disekitar rumah mereka. Aku melihat bertumbuhan dan berkembangan putri mereka. Sangat lucu, anak itu sangat tangguh. Dia adalah anak yang cerdas, anak yang menuruti perintah ibunya. Ditahun keempat aku bertemu Uni dan Ekon mendapatkan keluarga baru.

Meskipun begitu aku tetap merasa bahwa aku masih saja terkena Agoraphobia.

Memiliki pengalaman buruk sepertiku membuatku sangat takut akan keramaian. Membuatku takut dengan orang yang tidak ku kenal. Aku lebih merasa nyaman bergaul di Media Sosial. Setidak mereka tidak tahu seperti apa rupa asli wajah ku, mereka tidak menilai ku secara langsung dan mereka tidak bisa menyakiti ku.

Aku belajar banyak hal dan membuat ku bisa menyembunyikan identitasku, kemajuan teknologi sangat berarti untuk ku.

Itu membuat ku tidak harus keluar rumah, aku bisa mendapatkan informasi apapun melalui Jaringan Internet, aku bisa membeli apapun tanpa harus keluar rumah, memakan apapun hanya dengan memesan. Ini cukup bagiku.

Ditambah lagi aku bisa bisa terus mengamati Marisa dan putri, itu membuat ku merasa lebih dari cukup.

***

Aku belum tahu sampai kapan ini semua akan berakhir, aku menikmatinya.

Sering terjadi sesuatu yang memaksa ku untuk menghubungi Marisa. Misalnya saja, malam itu aku melihat seorang tetangga menyerempet mobil kantor Pranata yang diparkir didepan rumah mereka. Mereka tinggal dirumah kecil yang sederhana, tidak cukup untuk sebuah garasi, saat Pranata mendapatkan promosi kenaikan jabatan, membawa pulang mobil kantor sebagai kendara atas jabatan barunya. Tapi mobil itu ditemukan lecet-lecet saat pagi Pranata hendak memanaskan mobil. Marisa menjadi panic, Pranata menjadi kacau. Bisa saja ia kehilangan pekerjaannya tidak atasannya tahu.

Mereka adalah keluarga sederhana, akan sangat berat jika saja mereka membawa mobil itu ke bengkel. Saat Marisa dan Pranata berdebat didepan rumah mereka, putri mereka yang tidak tahu apa-apa menangis.

Aku merasakan kesedihan itu, saat kecil ayah dan ibu selalu bertengkar, aku sangat sedih mengetahui itu semua.

Aku ingin sekali membantu mereka, tapi aku tidak tahu caranya. Jika Pranata melihat aku pasti dia akan langsung membunuh ku. Rasanya aku ingin memberikan uang kepada mereka, tapi mereka akan curiga dan aku akan ketahuan. Dan jika aku ketahuan, semua kamera ku dan kehidupa ku akan berakhir.

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk memutar ulang video saat kejadian itu, aku memperhatikan dengan seksama dan mendapatkan informasi plat nomor mobil yang menyerempet mobil mereka.

Aku langsung mencari informasi alamat orang itu, ternyata hanya berselang beberapa rumah dari rumah mereka. Aku memutuskan untuk mengirimi pesan singkat (sms) ke nomor Marisa tentang informasi yang ku dapat. Sangat mudah mendapatkan informasi di zaman teknologi ini.

‘hai, aku tetangga baru. Tinggal tak jauh dari rumah mu, semalam aku melihat sebuah mobil menyerempet mobil mu, dia tinggal di Blok A4 No.10 tak jauh dari rumah mu’

Tak lama itu sms itu sampai dan dibaca oleh Marisa. Ia menunjukan pesan itu ke Pranata. Mereka langsung mengetuk pintu rumah alamat yang ku berikan. Orang tersebut mengakui kesalahannya, ia beralasan semalam sedikit mabuk dan kelelahan ia terburu-buru hingga menyerempet. Tapi orang itu siap mengganti semua kerugian.

Akhirnya masalah itu selesai, aku senang bisa membantu mereka. Aku bisa terus mengamati mereka. Kemudian pernah juga saat itu setelah Marisa pulang menjemput Lely, ia langsung memasak sesuatu. Aku terus mengamati mereka, tapi ku lihat Marisa dan Lely tertidur dengan api kompor yang masih menyala.

Aku berusaha menenangkan diri. Tapi setelah sekian lama mereka belum juga terbangun. Aku menjadi sangat panik.

Uni dan Ekon mendekat pada ku, seolah mereka berusaha menenangkanku.

“apa yang harus aku lakukan Uni? Api itu akan membakar rumah mereka jika mereka tetap tertidur” aku berbicara kepada anak anjing peliharaan ku. Wajah Uni menjadi sedih.

“Ekon, kau jangan sok tenang. Eh… kira-kira apa yang akan kau lakukan jika jadi aku? Aku tahu kau anak kucing yang pemberani. Yah… benar EKon. Telpon saja dia”

Aku langsung menelpon Marisa. Berkali-kali, aku tahu Marisa pasti sangat lelah. Tapi dia harus bangun. Entah sudah berapa kaliku telpon tapi dia tetap tidak bangun dan api sudah mulai membesar membakar dinding dapur mereka. Tolong bangun, aku mohon. Aku tidak bisa terima jika api itu membakar harapan ku lagi.

Sampai akhirnya Marisa terbangun, ia melihat asap dan dinding yang menghitam dibakar api.

“lari… bawa Lely , tinggalkan rumah itu” aku terus berteriak. Keringatku bercucuran mengalir membasahi baju ku.

Marisa menggendong Lely, keluar rumah. Orang-orang mulai berkumpul dan mereka mulai memadamkan api sebelum itu benar-benar besar. Sehingga petugas pemadam tidak perlu turun tangan.

Untuk kedua kalinya aku senang, bisa membantu keluarga itu. Baru saja aku pikir aku akan kehilangan lagi. Mereka adalah hidup baru bagiku.

***

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *