Bagian IX Ulang Tahun Ke 5 Lely

Aku mencatat hari penting ini, di semua pencatat yang aku punya. Di kalender ku,di smartphone ku, di komputer ku dan pastinya di otak ku sendiri.

Aku telah mengamati keluarga ini cukup lama, sejak usia Lely baru berumur satu bulan. Aku melihat sendiri berkembangan itu, aku menyaksikan ia tumbuh jadi gadis cantik dan cerdas. Dan hari ini adalah ulang tahun ke 5 gadis ini.

Pukul 06:00 pagi, mereka sibuk seperti pagi biasanya. Sarapan bersiap-siap dan lainnya. Aku langsung memesan kue ulang tahun juga.

Pukul 07:00 pagi, Pranata pergi bekerja. Selanjutnya Marisa menyiapkan pakaian sekolah Lely. Aku penasaran tahun ini mereka akan memberi Lely hadiah apa.

Pukul 08:00 pagi, Marisa mengantar Lely ke Taman Kanak-kanan. Aku merasa ada yang aneh. Mereka sepertinya melupakan hari ulang tahun Lely.

Pukul 09:00 pagi. Ku pikir mereka akan membeli kue saat Lely pulang sekolah. Agar Lely bisa memilih sendiri kuenya dan Pranata menyiapkan hadiah kejutan.

Pukul 10:00 menjelang siang. Bell rumah ku berbunyi, ku rasa kue pesananku telah tiba. Aku menyuruh pengantar kue itu meletakan di depan pintu karena kuenya telah aku bayar lunas.

Setelah pengantar kue pergi aku mengambil kuenya. Dan langsung membukanya, sangat cantik dan indah dengan krim berwarna biru muda. Warna kesukaan Lely. Uni dan Ekon pun telihat antusias. Aku lupa ini adalah tahun pertama mereka merayakan ulang tahun Lely.

Pukul 11:00 siang, mereka sebentar lagi pasti akan pulang seperti biasanya. Aku terus menatapi monitor. Menanti mereka.

Pukul 11:29 siang, mereka belum juga pulang. Mungkinkanh mereka merayakan diluar? Kalau begitu aku tidak bisa melihat mereka. Tak lama itu aku melihat Lely berjalan sendirian menuju pintu.

Aneh, kenapa hanya Lely sendiri. Dimana Marisa apakah dia masih membeli ku ulang tahun.

Lely berusaha membuka pintu tapi pintunya terkunci. Dia juga mendorong pintu sekuat tenaganya tapi tetap saja tidak akan bisa.

“gadis pintar. Tunggu sebentar ya, ibumu akan pulang sebentar lagi” kata ku seolah berbicara pada Lely.

Gadis itu akhirnya menyerah membuka pintunya. Dia mulai membuka tasnya. Lalu mengeluarkan beberapa krayon dan kembali menggendong tasnya. Dia mulai menggambar di lantai. Sayangnya aku tidak bisa melihatnya. Aku sangat penasaran dia menggambar apa. Mungkin sesuatu yang indah.

Tiba-tiba seseorang datang mendekati Lely. Ku rasa itu adalah tetangga mereka. Lely tidak terlihat takut. Tetapi kemudian orang itu memaksa menggendong Lely. Aku melihat Lely berontak.

Aku bingung apa yang harus aku lalukan. Bagaimana ini.

Orang itu membawa Lely pergi dan hilang dari layar monitor ku. Tanpa pikir panjang aku menelpon Marisa dan dia tidak mengangkatnya.

Aku terus menerus khawatir. Aku semakin gelisah , takut dan bingung dengan apa yang ku lihat, Marisa tak mengangkat telpon ku, sedangkan Lely berada dalam bahaya.

Apakah seharus tadi aku langsung kesana. Tapi aku tidak bisa keluar disiang hari, aku takut. Ada sangat banyak orang yang tidak ku kenal.

Pukul 12:15 siang, Marisa datang membawa beberapa perlengkapan dekor pesta dan kue ulang tahun. Tapi dia terkejut melihat krayon Lely yang berjatuhan didepan rumah mereka. Dia melihat beberapa gambar yang digambar oleh Lely. Kemudian dia menelpon seseorang,

Tak lama itu Pranata datang, dia memeriksa rumah mereka dan mencoba menenangkan Marisa. Kemudian beberapa polisi datang.

Aku merasa sedikit tenang. Meskipun menyesal tidak bisa menolong Lely.

Tenanglah Marisa, polisi-polisi itu pasti akan menemukan Lely. Mereka akan menyelamatkan Lely dan menangkap penculik itu.

***

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *